Lalu Ada Burung: Mengungkap Misteri Asal-usul

lalu ada burung novel alfred birneyMembaca novel Lalu Ada Burung karya sastrawan Indo-Belanda, Alfred Birney, kita disuguhi krisis identitas seorang blasteran yang berdiri di antara dua dunia: tanah air dan negeri kelahiran keluarganya.

Melalui portret keluarga, hiasan cecak kuningan, jambangan, lukisan, pisau marinir, yang semua diselimuti misteri, Alan Noland mencari asal-usulnya. Kakek buyut Alan Noland, orang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di Kediri, Jawa Timur. Ia beristrikan Rabina, perempuan Madura. Pasangan ini dikaruniai anak, salah satunya David, kakek Alan. Sang kakek mengambil perempuan Tionghoa, Sie Swan Nio, sebagai nyai alias gundik. Dari perkawinan tanpa ikatan itu, lahirlah ayah Alan, seorang marinir yang turur berperang melawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Silsilah keluarga saja tak cukup untuk menguak kabut misteri. Pulang ke Belanda, Alan masih diliputi kabut rahasia. Ia mendapatkan kenyataan bahwa neneknya, Sie Swan Nio, tak mendapat perawatan yang layak di akhir hidupnya. Ayahnya, menurut versi Tante Lea, sebenarnya tak pernah ikut berperang. Dan misteri berakhir dengan cerita yang masih berkabut rahasia. Justru inilah kekuatan novel ini. Seperti sebuah suspense yang menggiring pembaca untuk mengetahui kelanjutan kisahnya dari bagian satu ke bagian berikutnya.

Realisme magis

Yang menarik dari novel ini adalah kandungan realisme magis yang kental. Perlambangan atau sasmita gaib akan terjadinya kesialan, seperti datangnya burung gagak hitam yang berarti akan membawa malapetaka bahkan kematian, dipercayai oleh keluarga Alan di Belanda, juga di Indonesia. Kehadiran gagak hitam di kamar tidur Anneke memberi isyarat akan kematian Sie Swan Nio.

Sampai pada suatu malam Ibu Anneke terjaga dari tidurnya oleh desahan angin dan ia melihat seekor burung gagak terbang masuk kamar tidur. Ia bangun, menyalakan lampu, memandang ke tempat kosong di dinding dan mengerti dengan nalurinya bahwa penyihir Tionghoa yang terbelenggu pada tempat tidurnya jauh di Pulau Jawa telah putus nyawanya. (hlm. 42)

Demikian pula tatkala keluarga Alan pecah, yang dikatakan Sang Elang telah berganti wujud menjadi bom… Akhirnya datanglah seekor burung gagak. (hlm 41). Ketika Alan bersama saudara dari pihak Tante Lea berziarah ke makam nenek di Ungaran, Alan melihat burung gagak hitam berputar-putar di atas makam. Ini diyakini akan adanya sasmita gaib tentang kesialan. Esoknya, setelah mereka kembali ke Surabaya, Alan sakit.

Guna-guna juga dipercayai kebenarannya, bahwa dengan guna-guna orang bisa sakit. Ketika keluarga Alan menerima paket berisi buah berwarna-warni dari Indonesia, itu dikira mengandung guna-guna.

Demikian juga pasir dari makam yang dimasukkan dalam jambangan sehingga sempurnalah jambangan itu sebagai poesaka. Ini ada kemiripan dengan realisme magis yang dipercayai sebagian masyarakat Jawa. Pertanyaannya, apakah ini pengaruh dari tanah Hindia Belanda atau memang kepercayaan itu ada di masyarakat Negeri Belanda sendiri? Alfred Birney, dalam sebuah diskusi di Malang, akhir Oktober lalu, mengaku bahwa ia kerap mendapat cerita-cerita tentang hal-hal magis dan gaib dari nenek moyangnya, Skotlandia. Juga ada pengaruh dari cerita-cerita dari Inggris dan Jerman.

Selain itu, ketika membaca novel ini, kita disuguhi dimensi multikultur. Sebuah keluarga besar yang multietnis: Belanda, Madura, Cina, dan Jepang; dan multikultur. Ada Cina seperti ramalan I Cing, horoskop Cina, membakar dupa, cara berpakaian. Ada kultur Jawa: wayang, gamelan, batik, gudeg.

Membaca Lalu Ada Burung, seperti membaca wajah kita sendiri: Indonesia yang multikultur dan multietnis. Cuma, multikultur dalam novel ini, pada tokoh-tokohnya, berpadu secara harmonis, sementara kita masih disibukkan dengan kerusuhan yang kadang disebabkan oleh keragaman budaya.

Ngarto Februana
Dimuat di KORAN TEMPO, Minggu 3 November 2002, hal. 16
Pusat Data dan Analisa TEMPO

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra