Salju

Soerabaja Papa telah membeli kereta luncur bekas buat kami, tapi dia tidak ikut ke luar, dia kedinginan, dia berasal dari negeri panas di mana tidak pernah hujan salju. Aku berbagi kereta luncurnya dengan adik kembarku, kami harus berbagi segalanya, sampai dengan susu yang kami terima di sekolah setiap hari. Kami bergantian saling menarik, bertengkar mengenai gilirannya siapa sekarang, memandang jalan yang makin ke ujung makin putih, pasti ada salju yang banyaknya luar biasa di sana, selewatnya deretan panjang rumah-rumah suram, di taman Zuiderpark dan di belakangnya, di mana dunia nyata mulai, kota orang besar. Mereka memakai topi abu-abu dan jas abu-abu, kadang-kadang orang lewat yang tersesat mendekatkan kepalanya kepada kami dan kami mendengar: ‘Bilang saja kepada ibumu, kamu harus mencuci matamu lebih bersih.’Kami menggosok mata. Kami memandang orang itu sampai lama dari belakang dan kemudian menyampaikan pesannya kepada Mama Hellemond.
‘Ah, orang itu gila.’
Kalau kami harus percaya dia, banyak orang gila berkeliaran. Dengan topi abu-abu, jas panjang abu-abu, sepatu hitam dengan kaos kaki abu-abu, jenis orang yang memenuhi gereja pada hari Minggu.
Kami terlalu kecil untuk memahami lelucon picik seorang Den Haag asli dan tanggapan kesal Mama Hellemond. Dan kami sama sekali tidak melihat bahwa Mama Hellemond kami yang pirang cenderung bersikap seakan-akan kami bukan anak-anaknya sendiri, tapi milik seorang kenalan yang sedang sakit.
Masih bisa lebih parah lagi. Salju yang menipis dan berubah menjadi salju yang siap ditiup angin.
Kereta kami lagi-lagi dengan suara berderus mogok di trotoar abu-abu. Dunia memberontak, menjemukan dan dingin. Kami saling membelakangi duduk di kayu kereta dan setuju menunggu sampai salju turun lagi. Menunggu salju di Holland, anak-anak tolol, Natal selalu mengecewakan.
Kami tidak pernah berhasil melewati seluruh lintasan penuh persimpangan jalan yang berbahaya sampai ke ujungnya, di mana dunia nyata mulai. Salju yang sesungguhnya selalu ada di sana, di mana kau tidak perlu turun dari keretamu untuk menghindari tangga-tangga rumah yang abu-abu itu, di mana kau bisa tetap meluncur, terus dan terus dan terus. Dan di musim panas, matahari di sana selalu bersinar di balik awan. Bagaimana rasanya, tiba di tempat itu dan tidak pernah kembali lagi?
Suatu hari kami menarik kereta kami yang berderit merindukan saldu, menuruni jalan. Kami berjalan begitu jauh sampai tidak bisa melihat rumah kami lagi. Seorang laki-laki dengan topi abu-abu bertanya, kami mau ke mana, dan kami lalu mengatakan kami tersesat. Orang laki-laki itu mengantar kami, jauh kembali ke rumah serambi kecil, tempat belangsungnya perang, biasanya pada malam hari.
Suara-suara menyeramkan di kamar tidur orang tua kami, atau permainan bayangan Soerabaja Papa dan pisau belatinya di tembok kamar tidur kami, sementara dia bergumul dengan orang yang tidak kelihatan.
‘Dia melihat hantu, ayahmu itu,’ kata Mama Hellemond pagi sesudah malam berlalu, dengan teriakan dan caci maki dalam kegelapan, yang tiba-tiba bisa berubah menjadi sunyi senyap dan kau bisa mendengar Soerabaja Papa berjalan mengendap-mengendap di atas karpet sabut kelapa di depan kamar dan memutar semua sakelar lampu, sehingga dia bisa mencari para pelopor, yang jauh-jauh datang dari Indonesia untuk membunuh dia dan kami, seluruh keluarganya.
‘Kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak punya rumah, kepada orang yang memakai topi abu-abu itu.’
‘Ya.’
‘Mungkin orang dengan topi abu-abu itu lalu membawa kita ke ujung jalan.’
‘Ya, dan ia akan menarik kita dengan tali di atas salju, karena semua salju ada di kejauhan.’
‘Ya, dan di salju kita tidak melihat tapak kaki lain di belakang kita. Hanya tapak kaki orang dengan topi abu-abu, di antara jejak-jejak kereta kita.’
‘Seperti apa rumah-rumah di sana, di ujung jalan?’
‘Mungkin rumah di mana dia tidak akan pernah bisa menemukan kita.’
‘Tidak pernah?’
‘Ya, tidak pernah.’
‘Lalu Mama? Dan yang lain-lainnya?’
Kami bisa berlama-lama merenungkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang memenjarakan kami. Di saat kami tetap menunggu di atas kereta, mungkin kami tidak mengharapkan salju. Tapi mengharapkan seseorang yang akan mengajak kami. Bukan ke ujung jalan, tapi pergi dari sini, untuk selamanya, dan tidak pernah kembali.

Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Judul asli: “Sneeuw”. Dimuat dalam koran Haagsche Courant. January 17, 2003. Suara Merdeka, Indonesia, 21 November 2004. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Reproduksi dalam bentuk apa pun dilarang kecuali dengan izin tertulis dari pengarang.

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Mimpi

Malam hari itu kelinci-kelinci tidur di pasir pantai, aku melihat satu ekor berjaga-jaga, lalu kau ada di hutan tropis dan aku harus mencarimu. Tidak ada yang harus kutakuti, bukankah hanya sebuah permainan. Aku tersesat, mencari dan menemukan kau di padang terbuka. Keadaan jadi sungguh-sungguh. Kau mau berkelahi dan aku takut lagi kepadamu. Kau menertawakan aku karena aku tak terlatih, kau mencemoohku dan kau berdiri di sana, kau muda dan tampan lagi, matamu yang coklat berkilauan aneh dalam warna nila dan merah dan mulutmu miring begitu mengejek. Aku jatuh di tanah, di bumi yang hangat, aku berteriak, jeritanku mengisi kamar tidur, temanku dia tidak bangun, aku duduk dalam baju kimonoku di kamar bawah, gemetar di meja kerjaku, dan kelinci-kelinci dari pantai duduk tanpa peduli di sampul CD dengan judul Multiplication.

eric gale multiplication

Gitar Eric Gale membisu dan jiwamu mengisi ruangan. Baumu asap cerutu, permen mentol dan bumbu-bumbu Indis. Kapan kau mati dibunuh, kau sudah cukup lama menyiksaku, seperti korban-korbanmu menyiksamu dari akhirat. Satu saat kau akan melihat mereka bermunculan di depan matamu yang sekarat. Kau bilang ada banyak, ratusan, yang kau kejar dengan pisau, bayonet, pistol, senapan, granat tangan, bensin, sumbu dan korek api menemui ajal mereka.

Ataukah hanya ada satu, hanya pernah ada satu orang yang mati karena kesalahanmu: seorang teman sekolah mungkin, yang berada di kubu musuh karena dia tidak mau berjuang demi orang Belanda yang kau anggap saudara dari seorang ayah yang tidak pernah mau mengakuimu? Mungkin kau masih ingat hari itu, jam itu, saat kau rasakan pisaumu tenggalam dalam tubuhnya dan dia berbaring di atasmu dan kau merasa mau muntah karena dia tidak mau melepasmu. Kau berhasil lolos, lari dari dia, tapi setahun sesudahnya pada hari yang naas itu kau melihatnya berdiri di ujung kaki tempat tidurmu dan dia membagi diri seperti kecoak. Satu tahun kemudian dua sosok kembali dan membagi diri mereka menjadi empat. Tahun berikutnya mereka berempat kembali dan membagi diri mereka menjadi delapan. Dalam perkalian yang tidak dapat dibendung, satu pasukan mendiami kerajaan maut yang menunggu engkau, pendirinya, sehingga mereka bisa menyanyi:

Soerabaja Papa, selamat datang di rumah, selamat datang di tengah kami.

Kami sekarang begitu banyak dan masih saja takut kepadamu. Katakanlah apa salah kami, sehingga anda dapat berdoa bagi kami, seperti kami juga berdoa untuk anda, ketika sesudah perang anda putus asa mencari jalan dalam rimba batu bata di Negara Belanda yang jauh, di mana pintu yang tertutup tidak bisa dibuka dengan tendangan karena ada kuasa yang tidak dapat dimengerti, yang selalu mencegahnya, sesuatu yang lebih kuat daripada ilmu gaib orang terpandai dari masa muda kami di Hindia, Sang Dukun yang baru mau mati ketika ia tahu pasti bahwa orang Belanda akhirnya meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Judul Asli: Vanwege een oorlogserfenis (Multiplication). Haagsche Courant, vrijdag 21 februari 2003. Hak cipta © 2003 pada Alfred Birney. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Lalu Ada Burung: Mengungkap Misteri Asal-usul

lalu ada burung novel alfred birneyMembaca novel Lalu Ada Burung karya sastrawan Indo-Belanda, Alfred Birney, kita disuguhi krisis identitas seorang blasteran yang berdiri di antara dua dunia: tanah air dan negeri kelahiran keluarganya.

Melalui portret keluarga, hiasan cecak kuningan, jambangan, lukisan, pisau marinir, yang semua diselimuti misteri, Alan Noland mencari asal-usulnya. Kakek buyut Alan Noland, orang Belanda keturunan Skotlandia, membuka perkebunan tembakau di Kediri, Jawa Timur. Ia beristrikan Rabina, perempuan Madura. Pasangan ini dikaruniai anak, salah satunya David, kakek Alan. Sang kakek mengambil perempuan Tionghoa, Sie Swan Nio, sebagai nyai alias gundik. Dari perkawinan tanpa ikatan itu, lahirlah ayah Alan, seorang marinir yang turur berperang melawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Silsilah keluarga saja tak cukup untuk menguak kabut misteri. Pulang ke Belanda, Alan masih diliputi kabut rahasia. Ia mendapatkan kenyataan bahwa neneknya, Sie Swan Nio, tak mendapat perawatan yang layak di akhir hidupnya. Ayahnya, menurut versi Tante Lea, sebenarnya tak pernah ikut berperang. Dan misteri berakhir dengan cerita yang masih berkabut rahasia. Justru inilah kekuatan novel ini. Seperti sebuah suspense yang menggiring pembaca untuk mengetahui kelanjutan kisahnya dari bagian satu ke bagian berikutnya.

Realisme magis

Yang menarik dari novel ini adalah kandungan realisme magis yang kental. Perlambangan atau sasmita gaib akan terjadinya kesialan, seperti datangnya burung gagak hitam yang berarti akan membawa malapetaka bahkan kematian, dipercayai oleh keluarga Alan di Belanda, juga di Indonesia. Kehadiran gagak hitam di kamar tidur Anneke memberi isyarat akan kematian Sie Swan Nio.

Sampai pada suatu malam Ibu Anneke terjaga dari tidurnya oleh desahan angin dan ia melihat seekor burung gagak terbang masuk kamar tidur. Ia bangun, menyalakan lampu, memandang ke tempat kosong di dinding dan mengerti dengan nalurinya bahwa penyihir Tionghoa yang terbelenggu pada tempat tidurnya jauh di Pulau Jawa telah putus nyawanya. (hlm. 42)

Demikian pula tatkala keluarga Alan pecah, yang dikatakan Sang Elang telah berganti wujud menjadi bom… Akhirnya datanglah seekor burung gagak. (hlm 41). Ketika Alan bersama saudara dari pihak Tante Lea berziarah ke makam nenek di Ungaran, Alan melihat burung gagak hitam berputar-putar di atas makam. Ini diyakini akan adanya sasmita gaib tentang kesialan. Esoknya, setelah mereka kembali ke Surabaya, Alan sakit.

Guna-guna juga dipercayai kebenarannya, bahwa dengan guna-guna orang bisa sakit. Ketika keluarga Alan menerima paket berisi buah berwarna-warni dari Indonesia, itu dikira mengandung guna-guna.

Demikian juga pasir dari makam yang dimasukkan dalam jambangan sehingga sempurnalah jambangan itu sebagai poesaka. Ini ada kemiripan dengan realisme magis yang dipercayai sebagian masyarakat Jawa. Pertanyaannya, apakah ini pengaruh dari tanah Hindia Belanda atau memang kepercayaan itu ada di masyarakat Negeri Belanda sendiri? Alfred Birney, dalam sebuah diskusi di Malang, akhir Oktober lalu, mengaku bahwa ia kerap mendapat cerita-cerita tentang hal-hal magis dan gaib dari nenek moyangnya, Skotlandia. Juga ada pengaruh dari cerita-cerita dari Inggris dan Jerman.

Selain itu, ketika membaca novel ini, kita disuguhi dimensi multikultur. Sebuah keluarga besar yang multietnis: Belanda, Madura, Cina, dan Jepang; dan multikultur. Ada Cina seperti ramalan I Cing, horoskop Cina, membakar dupa, cara berpakaian. Ada kultur Jawa: wayang, gamelan, batik, gudeg.

Membaca Lalu Ada Burung, seperti membaca wajah kita sendiri: Indonesia yang multikultur dan multietnis. Cuma, multikultur dalam novel ini, pada tokoh-tokohnya, berpadu secara harmonis, sementara kita masih disibukkan dengan kerusuhan yang kadang disebabkan oleh keragaman budaya.

Ngarto Februana
Dimuat di KORAN TEMPO, Minggu 3 November 2002, hal. 16
Pusat Data dan Analisa TEMPO

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Minggu malam

Malam tiba, angin tak mau reda dan anakku masih belum mau pulang. Hari Minggu kelima sesudah Paskah. Jendela-jendela berderak-derak, angin berdesing melalui kisi-kisi rumah-rumah. Orang-orang seakan-akan hilang ditiup dari jalan, sekarang libur bulan Mei, mungkin separo orang Belanda ada di pantai Laut Tengah. Orang berduit. Di sini awan serigala hitam saling mengejar di bawah langit lembayung, membuat pemandangan Nintendo di atas pucuk-pucuk pohon kastanye seputar lapangan bermain. Seorang pemain skate remaja berlatih spin dan turn dan jatuh terus, sampai ibunya menjemputnya dan kami hanya berdua di lapangan aspal kecil itu, yang memiliki dua gol dan satu tiang basket. Bola kami terlalu keras, aku tidak punya korek api untuk menusuk lubang pentilnya, tapi hal-hal seperti ini kelak tidak penting. Yang penting adalah sinar lampu neon, yang memberi suasana seram kepada lapangannya. Anakku bilang itu asyik, dengan bola yang makin lama makin sulit diikuti jalannya. Remang-remang diusir oleh kegelapan, dan sinar murahan dari lampu-lampu kafe di pojok jalan membuatmu mengernyitkan mata. Ini satu malam untuk tidak dilupakan, aku bisa merasakannya, aku mengalami malam-malam seperti ini, tanpa sinar neon, tanpa angin, tapi dengan janji akan sebuah kenangan. Anakku mengikutiku pulang dengan langkah-langkah malas. Aku berani bertaruh dia akan berhenti di serambi depan dan memandang kegelapan malam. Ya? Ya. Ia mengambil uang muka untuk rasa melankolis yang tidur dalam dirinya dan yang akan menyerangnya pada satu saat, bertahun-tahun kemudian, di satu tempat di belakang jendela.

Hak cipta © 2002 pada Alfred Birney. Judul asli: “Zondagavond”. Dimuat dalam koran Haagsche Courant. Senin 29 April 2002. Reproduksi dalam bentuk apa pun dilarang kecuali dengan izin tertulis dari pengarang.

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Bangun

Latar belakangnya berwarna hitam dengan hapusan-hapusan nila, seakan-akan dilukis secara kebetulan, ataukah itu ancang-ancang seorang kaligraf Cina pemula? Lalu ada bunyi. Aku tak bisa menempatkannya. Tapi bunyi itu memperoleh bentuk: siluet gunungkah yang kulihat di kejauhan yang kelam? Langkah-langkah kecil dengan cepat mendekat. Sepertinya dari hewan yang memasuki daerahku. Sebelum aku sempat bersiap-siap, dia meloncat ke atas tempat tidurku. Aku berteriak terperanjat dan bangun. Hewan itu mundur sekejap, dan berubah menjadi sosok bocah laki-laki berumur lima tahun.
Ia berdiri di samping tempat tidurku, memandangku terkejut dan bertanya: ‘Papa, boleh pasang televisi?’
‘Boleh saja, Nak.’
Anakku cepat pulih, kelihatannya sudah melupakan reaksi kagetku ketika pahlawan-pahlawan kartunnya berlarian di layar kaca. Sungguhkah dia sudah lupa?
Kejadian-kejadian yang benar-benar meninggalkan kesan, biasanya membutuhkan reaksi yang diperlambat. Bisa jadi aku pernah melihat ayahku terkejut gara-gara aku, tapi mungkin aku lupa sebab mantan marinir itu dapat menggulingkan diri dari ranjangnya secepat kilat, kemudian melompat bangkit dalam sikap siap tempur seperti kucing. Bagaimana pun juga, kau lebih suka melihat ayahmu siap tempur daripada takut.
Aku terutama ingat yang satu ini: ‘Kamu mau apa.’
Diucapkan dengan nada datar, namun mengancam. Tawa menantang berkilauan dalam mata ayahku. Indo yang disiksa kenangan perang itu tidak melihat anaknya, ia melihat serdadu Jepang atau pejuang kemerdekaan Indonesia di hadapannya. Palu-palu kecil yang berdetak pada lengan-lengan mesin ketik menarik jejak huruf-huruf cetak di dahinya yang berkerut: Siapa kamu, kamu mau apa di kamarku?

Tidak ada pesawat televisi di rumah, waktu itu tahun lima puluhan dan aku seusia anakku sekarang. Ada karpet dari sabut kelapa di gang di depan kamar, yang membuat kakiku sakit. Kakiku perasa, aku tidak terbiasa jalan bertelanjang kaki seperti ayahku, di negeri dari mana ia melarikan diri enam tahun sebelumnya, tidak lama sesudah perang. Ada dapur dengan karpet kuning dan meja formika, di asbak kristal terletak putung-putung rokok dengan cap lipstik ibuku, orang Belanda. Hawanya dingin, apa yang kulakukan di kamar tidur orang tuaku?
Ayahku tidak menghendaki kehadiranku di situ dan mengusirku, menyuruhku menyalakan kembali pemanas batu bara.
Aku lari ke kamar keluarga. Tungku pemanas berdiri di atas kaki-kakinya yang bengkok di depan perapian, yang dikelilingi bingkai dari tegel-tegel kamar mandi berwarna kuning kusam. Aku menarik laci dengan bekas batu bara yang masih menyala keluar dari mahluk mengerikan bermerek Etna, nama gunung berapi di Italia. Dari lemari di gang aku mengangkat karung batu bara ke atas pundakku. Aku mendengar ibuku menggerutu kepada ayahku bahwa tugas-tugas semacam itu bukan untuk anak-anak kecil.
Aku membuka klep tungku dan di kedalaman melihat sisa-sisa batu bara yang bertahan hidup sepanjang malam. Berlian-berlian hitam, diawetkan dalam seringai neraka. Aku merobek-robek koran, membentuk robekannya menjadi bola-bola, melemparkannya ke dalam mulut tungku dan menutupinya dengan potongan-potongan kayu. Sambil menahan beratnya karung, aku menggelindingkan batu bara ke dalam api. Aku memandangi asap hitam yang mengepul, menunggu sampai pemanas mengeluarkan bunyi menderu dan menutup klepnya.
Empat puluh tahun kemudian, dengan satu gerakan sederhana, aku memutar tombol pengatur suhu untuk memasang pemanas sentral di apartemenku. Aku membuat sarapan untuk anakku, menaruhnya di atas meja di samping sofa dan kembali ke tempat tidurku. Mungkin aku masih bisa tidur satu jam lagi, untuk mengawali hari lebih baik. Tanpa perlu kaget, tanpa ingatan kepada ayahku dan hantu-hantu yang mengelilinginya.

Sesudah itu, anakku tidak lagi membangunkan aku dengan cara seperti itu. Bukannya aku melarangnya. Ia sendiri yang menemukan berbagai strategi. Ia mengambil kereta api mainannya yang pertama, terbuat dari kayu, dan menariknya sekeliling apartemen. Salah satu rodanya macet dan mengeluarkan bunyi mencicit. Bunyi yang kukenal dan tidak mengagetkanku. Kali lain ia duduk di sofa dan bersenandung, lagu-lagu yang diajarkan kepadanya di sekolah, menunggu sampai aku menyalakan televisi buat dia. Kadang-kadang aku melihatnya mengintip cepat-cepat dari pintu kamar, diam agar aku tidak kaget.
Pintu kamar tidurku selalu terbuka lebar. Pintu kamar ayahku selalu terbuka separo. Sesudah ia hidup terpisah dari istri dan anak-anaknya, hanya tergantung pada dirinya sendiri, sejak itu ia menaruh dipan di ruang duduk. Kupikir untuk tidur siang Indisnya, tapi kemudian aku curiga ia juga menidurinya pada malam hari.
Dipan di ruang duduk bisa menjadi sahabat untuk orang-orang yang takut. Kamar tidur bisa menjadi musuh, betapa pun kau berusaha menjadikannya nyaman. Kamar tidur, begitu pikirmu, bagaimana pun menyimpan kenangan akan mimpi-mimpimu yang paling buruk. Dipan di kamar duduk dikelilingi kenalan-kenalan hari-harimu: televisi, instalasi radio, buku-buku, ada syal seseorang yang telah mengunjungimu, anakmu telah meninggalkan kereta api mainannya di tengah kamar.
Aku tidak punya ruang duduk seperti itu. Kalau anakku sehabis akhir pekan kembali kepada ibunya, aku mengangkat semua barangnya ke kamarnya. Agar tidak menghapus kenangan akan kehadirannya, aku membiarkan pintu kamar tidurnya terbuka lebar-lebar. Ruang dudukku sekosong mungkin, tidak ada yang boleh menggangguku selagi aku duduk di belakang meja kerjaku. Karpet hijau, kerai hitam, sebuah sel dengan nafas ketegasan Jepang. Melihat dipan aku bisa lumpuh tanpa harapan.
Kamar tidurku memperlihatkan kekosongan yang sama. Aku tidur di kasur Jepang. Ada satu lemari dari kayu lapis putih, selain itu tidak ada apa-apa. Kamarku dipisahkan dari kamar duduk dengan sebuah pintu per. Bila pintu kubiarkan terbuka, dapat dikatakan aku tidur dalam perpanjangan kamar duduk. Tidak ada gunanya, sebab mengapa anakku membuatku begitu terkejut?
Kedatangan anakku untuk menginap, satu hari dalam seminggu, menyelang hidup pertapaanku sebagai penulis. Pada saat kehadirannya mulai merupakan sesuatu yang biasa, ia sudah harus pergi lagi. Pada saat kau mulai berdamai dengan siang, malam tiba.

* * *

Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Judul asli: “Wakker worden”. Dimuat dalam kumpulan cerita pendek dan esai karya Alfred Birney: Yournael van Cyberney. Haarlem: In de Knipscheer, 2001

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Sosok Tak Berwajah

Sie Swan NioSatu-satunya kenangan yang mengingatkan aku pada nenekku adalah makamnya, sedangkan satu-satunya yang dapat diingat ayah tetang neneknya adalah saat neneknya itu dimakamkan. Aku tak tahu sifat apa yang diwariskan nenekku padaku. Ayah juga tak tahu sifat apa yang diwariskan neneknya padanya. Kata ayah sewaktu hal itu kutanyakan padanya, ia tak keburu menanyakannya pada neneknya.

Mungkin aku mewarisi sifat nenekku yang meletup-letup. Kata ayah, ibunya itu punya sifat angin-anginan. Ini pernah diceritakannya dalam sebuah surat yang ditulisnya pada seseorang. Tembusan surat itu kubaca di kemudian hari. Istilah meletup-letup sekarang ini digambarkan sebagai: kepekaan suasana hati, se-dangkan suasana hati terbagi lagi dalam depresi, rasa takut, melankoli. Bila keti-ganya dibanding-bandingkan maka sepertinya melankoli adalah suasana hati yang paling mendingan, kerinduan yang membuat hati pilu. Mungkin nenek bersifat seperti itu karena ia merindukan tanah air yang tak pernah dikenalnya, tanah leluhur ibunya: negeri Cina. Nenek mewarisi kerinduan ibunya. Atau barangkali nenek mewarisi rasa rindu neneknya, yang barangkali juga tak dike-nalnya.

Kata ayah, neneknya mengenakan sepatu wanita Cina yang membuat kaki mereka tetap kecil. Sebagai wanita Cina ia telah memenuhi persyaratan kecantikan wanita Cina kuno. Kemungkinan moyangku melakukan perjalanan dari Kanton ke Hindia Belanda bersama dengan sanak keluarganya, karena dalam cerita-cerita ayah seringkali disebut-sebut nama-nama paman dan bibi yang berasal dari negeri Cina. Aku tak tahu kapan nenek sampai di Hindia Belanda. Ke-mungkinan, nenek dilahirkan setelah tahun 1860 sewaktu sistem perbudakan di Hindia Belanda dihapuskan dan Hindia Belanda kekurangan tenaga pekerja.

Pada tahun enam puluhan abad yang lalu orang Belanda mencari tenaga buruh di sekitar Laut Tengah, hal yang sama juga mereka lakukan 100 tahun se-belumnya di sekitar pantai Cina. Seperti banyak buruh pekerja yang pada akhir-nya menetap di Belanda, hal yang sama juga mereka lakukan di Hindia Belanda. Buruh pekerja yang biasa disebut kuli ini menumpang perahu-perahu yang ringkih. Siapa nama moyangku aku tidak tahu. Mungkin di antara ketiga nama Cinanya terkandung kata Nio yang artinya gadis.

Ayahku berusia empat tahun sewaktu neneknya meninggal. Kemungkinan ne-neknya berperawakan kecil, tapi dalam ingatan ayah peti mati neneknya besar sekali dan terbuat dari kayu jati sehingga sangat berat untuk dipanggul. Ibunya menyiapkan hidangan Cina sebagai sesajen bagi para dewa. Untuk upacara itu daun telinga ayah, dua adik laki-laki, dan dua adik perempuannya diolesi kapur. Ini dilakukan untuk melindungi mereka dari pengaruh roh-roh jahat yang gen-tayangan pada upacara penguburan.

Siapa saja yang hadir pada upacara penguburan itu? Apakah moyangku mening-galkan seorang suami, atau sudah meninggalkah suaminya, atau apakah semen-tara itu suaminya sudah kumpul kebo dengan perempuan lain yang lebih muda?

Kemudian peti jenazahnya dinaikkan ke atas kereta pedati. Iring-iringan meng-arah ke pemakaman Cina di Surabaya. Dengan upacara Cina, jasad perempuan berkaki kecil itu diturunkan ke tanah. Bunga-bungaan pun ditaburkan. Ayah yang pada waktu itu masih kecil tergiur melihat sesajen di piring-piring besar yang disajikan orang-orang. Tak seorang pelayat pun memperhatikan tingkah laku ayah yang saat itu asyik menikmati sajian yang lezat yang dihidangkan di sekeliling liang kubur. Maukah para dewa berbaik hati membiarkan anak kecil itu sebentar di tengah-tengah mereka?

Andai para dewa itu benar-benar ada, dan andai mereka menjadi murka karena anak kecil itu menikmati sesajen yang sebenarnya diperuntukkan bagi mereka, para dewa, maka mungkin ini adalah pertanda bahwa nasib sial bakal menimpa anak kecil itu kelak. Aku sendiri tidak percaya itu bakal terjadi. Atau sebenar-nya: aku tidak begitu percaya. Ini artinya: setengah percaya dan bukannya tidak percaya sama sekali. Karena kita tidak tahu dengan pasti apakah dewa-dewa itu benar-benar ada dan hadir pada upacara penguburan nenek ayah.

Namun aku berharap dewa-dewa itu benar-benar ada. Bahwa para dewalah yang menentukan suratan tangan ayah. Aku mengharapkan hal ini karena aku mencari sisi baik manusia, sisi baik keluargaku.

Wajah nenek buyut dari pihak kakekku hanya kudapatkan lewat foto. Namanya Rabina. Kata ayah ia orang Madura. Menurut bibi yang menulis silsilah keluar-ga, Rabina berasal dari Jawa Timur, anak perempuan Pak Grimin dan Sayeh. Banyak orang Jawa Timur berasal dari Madura. Rabina mungkin tinggal di u-jung Pulau Jawa, sewaktu satu <i<decennia sebelum sistem perbudakan dihapuskan, seorang laki-laki bernama George Birnie berlayar dari Holland menuju Hindia Belanda. Dia kelak akan menghijaukan sebagian Jawa Timur dengan menanam kopi dan tembakau. Menikahi wanita pribumi seperti Rabina adalah hal yang tidak biasa dilakukan pada masa itu. Rabina mengaruniai suaminya itu dengan delapan orang anak: anak-anak Indo. Untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran, anak-anak itu dikirim ke Belanda dan kemudian Rabina juga di-boyong George ke Belanda. Di sana George memimpin perusahaan Birnie. Istrinya bekerja di dapur yang terletak di lantai bawah. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaan Rabina di tempat itu.

Dalam silsilah keluarga ditulis bahwa George meninggal di Belanda, tetapi bagaimana nasib Rabina kemudian sama sekali tidak digubris. Penulisnya hanya menulis tentang riwayat keluarga Birnie. Dari tulisan-tulisan itu aku bisa menge-tahui apa yang dilakukan kaum laki-laki keluarga Birnie. Mereka bercocok tanam di Hindia Belanda. Aku juga tahu bahwa moyangku Rabina memasak untuk suami dan anak-anaknya dan sangat tidak fasih berbahasa Belanda se-hingga lucu kedengarannya. Hanya itu yang kuketahui. Pertanyaanku lagi-lagi adalah: bagaimana perasaan Rabina di Belanda? Apakah ia seperti tercabut dari akarnya? Atau apakah ia bisa merasa kerasan di mana pun di dunia, asal berada di dekat suaminya. Aku rasa setelah suaminya meninggal, Rabina kembali ke Hindia Belanda dan meninggal di sana. Aku berharap itu yang terjadi karena, kata orang-orang Indo yang sudah tua, tanah di Hindia Belanda lebih hangat.

Anak keempat George dan Rabina bernama Willem. Ia lahir tahun 1868 di Jember, Jawa Timur. Indo tulen ini mula-mula menikah dengan keponakannya, seorang wanita yang juga berasal dari silsilah Birnie. Mereka dikaruniai dua orang anak. Berapa lama perkawinan ini bertahan tak kuketahui. Secara hukum mungkin seumur hidup mereka. Tetapi dalam kenyataannya, mereka hidup terpisah. Perpisahan itu terjadi sewaktu Willem bertemu nenekku, salah seorang gadis dari dua bersaudara anak seorang perempuan Cina berkaki kecil. Willem kumpul kebo dengan wanita itu, itu kata ayah. Tapi kata orang-orang lain, Willem mengambil wanita itu sebagai pengurus rumah tangganya, dan sebagai miliknya, sebagai nyai.

Kata ayah, wanita itu lahir di Kediri, Jawa Timur tahun 1893 dan diberi nama Sie Swan Nio. Nama Sie adalah nama keluarga yang ditempatkan di depan. Ta-pi dalam akte kelahiran ayah tahun 1925 tertulis: Sie Swan Nio, ibu rumah tangga, berdomisili di Surabaya, Koninginnelaan 3, menurut pengakuan berumur 35 tahun, tidak menikah. Apakah Sie Swa Nio dilahirkan tahun 1890? Ini mungkin saja terjadi dengan alasan tertentu, barangkali karena uang ia terpaksa berbohong pada no-taris mengenai berapa umur sebenarnya.

Bila ia kelahiran tahun 1890 seperti dalam pernyataannya dalam akte itu, maka ia adalah wanita bershio macan. Tapi bila ia kelahiran 1893, maka ia bershio ular.

Perbedaan wanita bershio macan dan ular sangat besar. Wanita bershio macan bersifat feminis, jadi mereka kurang disukai oleh orang-orang tua Cina. Wanita bershio ular bersifat misterius dan sensual. Yang jelas tanggal kelahiran Nio adalah 23 Juli, terletak di batas antara zodiak Cancer dan Leo. Ayah pasti tidak pernah melupakan ulang tahun ibunya, sewaktu ia hidup sendirian di Belanda, terpisah dari sanak keluarga, karena harus mengungsi menghindari para pejuang Indonesia setelah perang.

Sie Swan Nio sebelumnya sudah punya anak perempuan dari hubungannya dengan seorang laki-laki Cina. Aku tak tahu apakah ada ikatan perkawinan di antara mereka. Yang jelas, laki-laki itu suka main judi. Tapi bisa juga ini hanya merupakan alasan ayah saja. Ada satu teori yang mengatakan bahwa biasanya setelah bercerai, seseorang mencari teman hidup yang mirip dengan partner se-belumnya, atau setidak-tidaknya punya kesamaan yang khas. Nenekku mene-mukan sifat yang sama pada suami keduanya ini, sama-sama suka judi.

Willem, keturunan Birnie, pemilik perkebunan yang kaya dan terkenal. Ia menghiasi temboknya dengan dua belas senjata berburu. Kata orang, orang Indo suka berburu. Biasanya mereka berburu babi hutan. Nenek pasti sering melihatnya pergi ke jungle. Tapi barangkali jungle yang dimaksud adalah sekumpulan alamat rumah tempat simpanan-simpanan gelapnya tinggal.

Kata ayah, Willem memiliki kapal uap, binatu, dan kantor pengacara. Di kemudian hari aku membaca dalam silsilah keluarga tulisan tanteku bahwa laki-laki itu adalah pencemar nama keluarga, yang suka membual memiliki perusahaan-perusahaan supaya bisa meminjam uang dari kas keluarga. Ia juga membual tentang sebuah tambang batu bara di Kalimantan, ya cerita-cerita se-perti itulah. Dalam perjalanan menuju ke Belanda dan kembali lagi ke Hindia Belanda, dia selalu mampir di kasino di Monaco.

Peminat kehidupan ini tidak mengikuti jejak ayahnya, George, dan tidak pernah mengakui kelima anaknya yang dilahirkan oleh Sie Swan Nio. Nio sendirilah yang melaporkan kelahiran ayahku, anak bungsunya yang jauh beda usianya dari kakak-kakaknya. Menurut akte tersebut waktu melapor Nio masih menunggu sampai batas akhir, karena waktu itu bayinya sudah berusai tiga bulan. Pada ma-sa itu hukum tidak mengakui laporan yang melewati batas waktu lebih dari itu. Kemungkinan selang waktu itu digunakan Nio untuk membujuk suaminya itu untuk mengakui putranya, supaya paling tidak anak emasnya, anak kesayangannya itu, bisa jadi pewaris dengan masa depan yang cerah.

Kemungkinan nenek bershio macan dan temperamen yang dimilikinya itu mem-buat ia sering bertengkar dengan suaminya supaya mengakui anak terkecil mereka, dan ‘sang pemburu’ terus saja mengatakan akan mempertimbangkannya dan selalu saja melupakan janjinya ini karena pengaruh whisky. Dalam silsilah keluarga ditulis bahwa kakekku pada akhir hayatnya berada di bawah pengawasan keluarga. Ia mendapat uang saku sebanyak enam ratus gulden sebulan dan tidak diperkenankan lagi mencampuri urusan keluarga. Sewaktu penjudi ini meninggal tak lama sebelum Perang Dunia Kedua, ia hanya meninggalkan sejumlah hutang saja.

Barangkali nenek bershio ular dan ia sangat menderita karena sering ditinggal suaminya. Mungkin nenek tidak mendapatkan cukup uang untuk hidup dengan layak. Aku tak tahu apakah ada rasa cinta di antara keduanya. Bila kakek dulu mengambilnya sebagai pengurus rumah tangga, maka lama-lama ia menjadi wanita piaraannya. Sebagai wanita piaraan, kita bisa menduga atau percaya bahwa ia tidak lagi berstatus sebagai pembantu, tapi sudah jadi wanita milik tuan besar, seseorang yang memiliki uang, kekuasaan, dan terpandang.

Tetapi sang tuan besar tak berdaya menceraikan istrinya yang juga adalah keponakannya. Istri pertamanya ini, yang memberinya tiga orang anak yang sah menolak cerai dan ini mungkin disebabkan oleh saham-saham yang ada dalam kekayaan keluarga. Atau barangkali juga nenekku merasa bahwa cinta suaminya tetap melekat pada keponakannya. Menurut I Ching, sebuah buku yang merupakan warisan kuno Konghucu dan murid-muridnya, satu-satunya buku pe-ganganku untuk memahami cara berpikir nenek moyangku yang berkebangsaan Cina: keintiman sejati hanya mungkin melibatkan dua orang karena orang ketiga hanya akan membawa rasa cemburu. Jadi salah satu harus mengalah.

Menurut cerita ayah, sewaktu masa-masa perang ibunya pindah kepercayaan, dari Ajaran Konghucu ke Agama Kristen. Ia mulai membaca Alkitab dalam ba-hasa Melayu. Mungkin nenek mencari penghiburan untuk melupakan kesedihan yang diakibatkan oleh anak bungsunya karena ide-ide anaknya yang pro Belan-da dan tindakan-tindakannya selama perang.

Sewaktu Jepang menduduki Hindia Belanda, ketika pemboman pertama di Su-rabaya, separuh rumah mereka hancur menjadi puing. Mereka sekeluarga harus mencari tempat untuk berteduh di kota. Kakak tertua ayah yang ditunjuk menjadi walinya mengurus pembuatan kartu identitas untuk mereka sebagai orang Cina sehingga keluarga tersebut dapat hidup dengan lumayan pada masa perang. Seluruh keluarga yang berpikir cara Indonesia percaya pada ramalan Jaya-baya bahwa setelah tiga tahun penjajah kuning itu akan menyingkir dan bangsa Indonesia akan merdeka. Namun anak emas nenekku ini terlalu cepat ditinggal ayahnya sehingga tokoh ayah ini diromantisirnya. Willem merasa sebagai orang Eropa tulen dengan paspor Belandanya. Saat itu ayahnya telah tiga tahun meninggal sedangkan ayahku sudah menginjak usia tujuh belas tahun dan bukan orang Cina, Indo, atau Belanda. Ia menyematkan peniti Cina di dadanya, tapi di tembok kamar tidurnya ia memasang foto ratu Belanda. Ia terjangkit rasa benci pada orang-orang Jepang. Selama bertahun-tahun ia masih saja menyesali hi-langnya dua belas jambangan Cina yang besar-besar yang hancur pada saat pemboman.

Apa lagi yang dilakukan nenek selama perang selain membaca Alkitab? Ia mencari uang dengan cara membuat kecap yang dikerjakannya di kebun bela-kang. Selama masa penjajahan Jepang, kedua anak perempuannya yang kembar bekerja sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan yang sering dikunjungi serdadu Jepang. Uang hasil jerih payahnya mereka bawa pulang. Ketika ayahku protes, ibunya berkata, ‘Diam kau, kita kan harus makan.’ Namun, ketika ayah-ku yang saat itu berumur dua puluh tahun membawa upah pertamanya ke ru-mah dan menyerahkannya pada ibunya, nenek berkata, ‘Aku tak mau uang yang berlumuran darah itu.’

Kejadian itu berulang kali diceritakan ibuku padaku. Ibu adalah kawan pena ayah dari Belanda. Ibu dikenalkan pada ayah oleh seorang serdadu Belanda yang berasal dari Belanda Selatan.

Ketika Jepang menyerah, tentara Belanda mencoba menguasai Hindia Belanda kembali dengan cara yang disebut aksi polisionil. Tapi orang Indonesia tidak menghendaki perwalian lagi dan kemudian mengangkat senjata sehingga keadaan Hindia Belanda menjadi kacau. Ayahku berpihak pada Belanda karena almarhum ayahnya yang tak sah itu adalah orang Belanda. Ayah kemudian bergabung dengan aksi polisionil pertama, namun ia mengalami kecelakaan menabrak ranjau darat sehingga selama aksi polisionil kedua ayah terpaksa tinggal di asrama.

Cerita yang akan kukisahkan ini aku temukan dalam memoiresnya yang pernah ditulis ayah untuk memenuhi permintaanku. Suatu ketika ia mendapatkan cuti dan pulang ke rumah. Menurut tulisannya ini, ia masih mengenakan seragam dan juga membawa senjata. Aku tak tahu apakah hal ini diperkenankan karena biasanya pada saat seseorang mendapatkan cuti, ia harus meninggalkan senjatanya di asrama. Sesampai di rumah ia mendengar suara bayi berceloteh. Ia me-nuju kamar di belakang dan melihat seorang bayi dengan raut muka orang Jepang. Ia mengambil senjatanya, mengisinya dengan peluru, dan mengacung-kan larasnya pada anak itu. Melihat hal ini pembantu-pembantu yang ada di situ berteriak-teriak minta ampun. Ayah kemudian pergi dari sana dengan perasaan terluka karena salah satu saudara kandungnya mendapatkan anak dari seorang tentara Jepang, dari seorang musuhnya.

Ke mana ia akan pergi, di mana ia berada? Apakah ia balik ke asrama? Menurut tulisannya ia kemudian sering berkeliaran di kota tempat di mana kelompok yang berlawanan saling bertempur. Namun cerita mengenai bagaimana pada saat-saat yang kacau itu, pacar saudara kandungnya, si serdadu Jepang itu dibu-nuh di kota pada suatu malam, tidak pernah ada dalam tulisannya.

Di kemudian hari di Belanda, bila kami sedang duduk-duduk mengitari per-apian dan mendengarkan kisah-kisah perang yang setiap malam diceritakannya, ia menjuluki saudara perempuannya itu sebagai seorang pengkhianat, wanita penghibur, pelacurnya orang Jepang. Sebagai seorang anak kecil aku berusaha untuk mengerti kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, namun sia-sia. Beberapa tahun kemudian aku mulai menyurati tanteku itu, Tante Lea. Aku menjadi salah satu dari generasi Indo kedua yang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk mencari asal-usulnya. Selain itu bukankah seorang penulis membutuhkan bahan untuk tulisannya, membutuhkan berbagai suara mengenai hal yang sama yang dilihat dari berbagai perspektif yang berbeda.

Aku tinggal selama lima minggu di rumah Tante Lea. Tante Lea adalah anak yang paling dekat dengan nenek, karena nenek tinggal di rumah Tante Lea sampai akhir hayatnya. Tante Lea tinggal di sebuah rumah baru yang terletak di sebuah gang di bilangan Stasiun Gubeng, suatu wilayah di Surabaya. Tante Lea tinggal dengan anak perempuannya yang keturunan Jepang bernama Josta. Nama itu diambil dari nama sang ayah, si serdadu Jepang bernama Josida.

Josta memperoleh tiga orang anak dari seorang laki-laki Cina, seorang pembo-rong yang ulet yang mampir beberapa kali seminggu dan sekali-sekali meng-inap. Istri pertama laki-laki ini tinggal di kota. Seperti nenek kami, Josta juga menjadi wanita piaraan, walaupun dengan variasi yang berbeda. Laki-laki ini adalah seorang Cina beragama Budha.

Anak laki-laki Josta, Joshi, punya satu angan-angan, yaitu mengunjungi Jepang, tanah kelahiran kakek yang tak pernah dikenalnya. Wanita yang menjadi idamannya adalah wanita Jepang. Di dinding kamarnya tergantung kalender bergambar foto model Jepang. Anak perempuan Josta, Linda, lebih tertarik pada orang Cina dan punya kekasih, seorang Cina. Setiap malam, pulang bekerja, Linda dengan tak henti-hentinya menceritakan apa saja yang dialaminya, apa sa-ja yang akan dilakukannya, apa saja yang disukainya dan yang tidak disukainya. Kata orang, ia mirip nenekku Nio. Tapi Linda banyak tertawa, sedangkan menurut ayah, ibunya jarang tertawa. Anak bungsu Josta, adalah seorang gadis bernama Ervina.

Kalau nama anak-anak Josta diurut berdasarkan umur, maka akan terasa perbe-daan di antara nama-nama itu. Joshi, Linda, dan Ervina. Nama yang pertama masih berbau nama kakek Jepang yang tidak dikenalnya. Nama kedua adalah nama yang bagus untuk seorang gadis Cina modern, sedangkan nama yang ketiga berbau Indonesia.

Di beranda rumah tanteku, aku merasa sangat nyaman. Berbeda dengan bila aku sedang berada di jalan-jalan di Indonesia. Mungkin tempat ini mengingat-kan aku pada cerita-cerita ayah tentang Hindia Belanda. Aku selalu melalui ma-lam-malam hari di beranda sambil mengamati cicak-cicak selama berjam-jam. Hiasan kadal yang merayap di tembok ini di tahun-tahun enam puluhan meng-hiasi dinding rumah orang-orang Indo di Belanda. Di rumah-rumah orang Indo yang sudah tua barangkali hiasan ini masih dipajang sampai sekarang.

Tempat di mana tanteku merasa nyaman adalah dapur. Di sini setiap hari ia mendengarkan cerita-cerita wayang sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Malam hari ia pergi menemaniku di beranda, berdiri di belakang kursiku dan menyapaku dengan pijatan jari-jarinya di pundak dan leherku yang kaku. Aku tak sabar mendengarkan apa-apa yang akan diceritakannya.

Aku harus bersabar menunggu cerita mengenai Josida, sang serdadu Jepang yang sangat dibenci oleh ayahku, yang baru bisa keluar dari mulut Tante Lea berminggu-minggu kemudian. Cerita itu aku dengar dalam dua versi. Mula-mula versi Josta, baru kemudian versi Tante Lea.

Sambil membersihkan lantai, Josta menceritakan bagaimana ayah yang tak dikenalnya itu pada suatu malam pergi untuk membeli rokok. Saat itu tentara Jepang sudah menyerah dan mereka menunggu untuk dipulangkan ke tanah airnya. Masa itu dikenal sebagai masa Bersiap, satu masa di mana sebagian serdadu Jepang bahu membahu dengan orang Indonesia melawan Belanda. Seba-gian lain bersembunyi di bangunan-bangunan yang terletak di pelabuhan atau di rumah-rumah yang mereka sita sewaktu mereka menduduki Hindia Belanda. Ada juga yang bersembunyi di rumah pacar-pacarnya seperti Josida.

Kebanyakan orang Indonesia tidak melakukan apa-apa terhadap tentara Jepang, tapi ada orang yang putus asa yang berkeliaran, antara lain orang-orang Indo yang masih punya perhitungan dengan bekas musuhnya, seperti ayahku. Hanya orang Jepang yang gila yang berani jalan sendirian malam-malam. Itulah sebabnya mengapa Josida tidak jalan sendirian, tapi bersama dengan keponakannya yang juga seorang tentara. Tante Lea menunggunya, tapi tidak melihatnya pu-lang. Ia mencarinya, tapi kemudian mendengar kabar bahwa ada mayat di-temukan di pasar. Wajahnya rusak. Saat diidentifikasi mayat itu hampir tak bisa dikenali. Ternyata itu adalah keponakan Josida.

Lalu bagaimana dengan Josida?

Ya, tentu saja ia kabur. Dia tak berani pulang lagi. Mama masih berusaha mencarinya sampai setelah perang lama usai. Bahkan sampai ke Tokio, lewat perantara. Kamu tahu kan Tokio jauh sekali. Tapi mama tidak pernah mendengar kabar lagi. Kasihan ya, mama.

Beberapa hari kemudian, di beranda depan, sebelum aku pulang ke Belanda, Tante Lea duduk menemaniku. Ia tidak menyapaku dengan pijatannya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Sejenak ia memandang ke depan tanpa bilang apa-apa. Pandangannya ke depan, melewati gang, menatap jalanan yang gelap dan sunyi. Tangannya yang keriput diletakkan di pangkuannya. Ia bercerita bahwa pada suatu malam Josida pergi membeli rokok. Keadaan di luar sangat berbahaya, sehingga ia pergi bersama keponakannya. Itu adalah saat yang terakhir kalinya ia melihat Josida yang dicintainya, karena keduanya tak pernah kembali lagi. Keduanya menemui ajal di pasar. Wajah mereka dirusak dengan pisau.

Wajah keduanya? tanyaku.

Ya, wajah keduanya. Setelah Josida pergi, tantemu ini tidak pernah lagi menikah. Tapi ada Josta, dan Josida menitis dalam dirinya, sehingga aku merasa ia tetap berada di sisiku. Linda mirip nenekmu. Kamu tahu, ia ingin sekali pergi ke Cina. Dan Joshi, mirip kakeknya. Karena itu ia memimpikan gadis Jepang dan negeri Jepang.

Tapi Josta menceritakan padaku bahwa hanya keponakan ayahnya yang menemui ajalnya.

Memang, jawab tante, aku tidak menceritakan semuanya. Kasihan dia. Tapi Josta sedang tidur sekarang, jadi aku dapat menceritakan hal ini padamu. Sese-orang bisa punya suami yang tidak selalu berada di sisinya, atau punya kekasih yang meninggalkannya. Tapi siapa yang mau punya ayah tanpa wajah.

* * *

Judul Asli: Zonder gezicht
Vertrouwd en vreemd. Ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië
Serie Tipje van de Sluier, nr 12
Redactie: Esther Captain, Marieke Hellevoort & Marian van der Klein
Uitgeverij Verloren, Hilversum, 2000
Copyright © 2000, Alfred Birney

Terjemahan oleh Ingrid Bernard
Tiga Puluh Tahun Studi Belanda di Indonesia / Dertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië
Editor: Yati Suhardi, Munif Yusuf, Kees Groeneboer.
Fakultas Sastra – Universitas Indonesia
Depok, 2001
Percetakan: Desa Putera Jakarta
ISBN: 979-8184-60-2
Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra

Dertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië

Dertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië / Tiga Puluh Tahun Studi Belanda di IndonesiaDertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië /
Tiga Puluh Tahun Studi Belanda di Indonesia

Yati Suhardi, Munif Yusuf, Kees Groeneboer (redactie)
Fakultas Sastra – Universitas Indonesia
Depok, 2001
Desain kover: Mursidah
Percetakan: Desa Putera Jakarta
ISBN: 979-8184-60-2

Dit tweetalige boek (Nederlands / Indonesisch) kwam tot stand naar aanleiding van een conferentie gehouden aan de Universitas Indonesia in oktober 2000 wegens de viering van 30 jaar studie Nederlands in Indonesië. Kees Groeneboer, hoofd van de Fakultas Sastra, de Faculteit Letteren, voerde het idee uit om de bijdragen van alle deelnemers aan de conferentie in een kloeke tweetalige bundel te publiceren. Het boek valt uiteen in vier delen: 1. Taal en cultuur der Nederlanden / Bahasa dan Kebudayaan Belanda; 2. Koloniale Literatuur / Sastra Kolonial; 3. Geschiedenis / Sejarah; 4. Nederlands als Bronnentaal / Bahasa Belanda Sumber .

Onder deel 2. werd opgenomen van Alfred Birney zijn verhaal Zonder gezicht, in een vertaling van Ingrid Bernard onder de titel Sosok Tak Berwajah. Van het verhaal bestaat overigens een tweede vertaling onder de titel Tanpa Wajah van Widjajanti Dharmowijono, de vertaalster van Vogels rond een vrouw en De onschuld van een vis. Het origineel staat afgedrukt in de bundel Vertrouwd en vreemd.

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Boeken, Sastra

Tanpa wajah

Satu-satunya kenanganku akan nenekku adalah makamnya. Satu-satunya kenangan ayahku akan neneknya adalah pemakamannya. Aku tidak tahu apa yang diturunkan nenekku kepadaku. Ayahku tidak tahu apa yang diturunkan neneknya kepadanya, tidak bisa lagi menanyakannya ketika aku bertanya.

Mungkin aku mewarisi suasana hati nenekku yang berubah-ubah. Ayahku berkisah bahwa ibunya sering berganti suasana hati. Ia menulis hal itu kepada seseorang dalam surat yang kemudian aku baca tembusannya. Zaman sekarang pergantian suasana hati dinamakan: kepekaan terhadap suasana. Suasana dikenal ada tiga: tertekan, takut, melankolis. Dari ketiga suasana, melankolis mungkin yang paling indah. Rindu kepada kampung halaman tapi lebih sedih. Mungkin nenekku merindukan negeri yang tidak dikenalnya, negeri ibunya: Tiongkok. Kerinduan yang ditularkan kepadanya oleh ibunya, yang berasal dari sana. Atau yang diwarisi dari neneknya, yang mungkin juga tidak dikenalnya.

Ayahku bercerita bahwa neneknya masih mempunyai kaki-kaki kecil yang diikat. Dengan demikian sebagai perempuan Cina ia telah memenuhi gambaran ideal seorang wanita Cina cantik. Nenek buyutku datang ke Hindia Belanda dari Kanton, kemungkinan besar bersama sebagian keluarganya, karena dalam cerita-cerita ayahku bermunculan paman-paman dan bibi-bibi Cina. Kapan ia datang ke Hindia Belanda, aku tidak tahu. Kelihatannya ia lahir sesudah 1860, ketika perbudakan di Hindia Belanda dilarang dan terjadi kekurangan buruh.

Seperti halnya orang Belanda mencari buruh dari negara-negara sekitar Laut Tengah pada tahun enam puluhan abad yang lalu, begitu juga yang mereka lakukan di pantai-pantai Tiongkok seratus tahun sebelumnya. Dan seperti banyak buruh dari Laut Tengah yang bermukim untuk selamanya di Negeri Belanda, begitu juga yang dilakukan para pendatang di Hindia Belanda. Mereka datang dalam perahu-perahu reyot, dan orang menamakannya ‘koelie’. Aku tidak tahu nama nenek buyutku. Mungkin ia memakai Nio dalam namanya: perempuan.

Ayahku berusia kira-kira empat tahun ketika neneknya meninggal. Tubuh neneknya pasti kecil, tapi dalam ingatan cucunya peti matinya besar dan dibuat dari kayu jati dan berat. Di bawah pimpinan ibunya, orang membuat masakan Cina dan mempersembahkannya kepada para dewa. Ayahku, dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuan dilumuri kapur di belakang telinga. Garis-garis kapur itu harus melindungi mereka terhadap roh-roh jahat selama upacara pemakaman.

Siapa lagi yang hadir pada upacara itu? Apakah nenek buyutku meninggalkan seorang suami, ataukah lelaki itu sudah meninggal atau mungkin hidup bersama perempuan lain, yang lebih muda?

Peti diangkat ke atas cikar dan diantar ke tempat pemakaman di Soerabaja. Dengan sebuah upacara Cina perempuan dengan kaki-kaki kecil dititipkan pada tanah, bunga-bunga ditabur dan seorang anak laki-laki kecil melihat bagaimana piring-piring dengan makanan persembahan diatur mengelilingi makam. Seleranya timbul, ia lolos dari perhatian para pelayat dan makan dari hidangan lezat di seputar makam neneknya. Mungkin para dewa dalam kebaikan mereka mengizinkan bocah kecil itu berada di antara mereka?

Seandainya mereka hadir, para dewa itu, dan seandainya mereka marah karena seorang anak kecil makan dari hidangan mereka, mungkin di sinilah letak petunjuk untuk nasib getir yang menanti si bocah kelak. Tapi aku tidak percaya itu. Tepatnya: aku hampir tidak percaya. Itu agak lebih banyak ketimbang tidak percaya sama sekali. Karena aku tidak tahu pasti apakah mereka benar-benar ada, para dewa itu, dan apakah mereka hadir pada pemakaman nenek ayahku.

Aku harap mereka hadir. Bahwa merekalah yang menentukan nasib ayahku. Aku berharap begitu karena aku mencari ketidakbersalahan manusia, keluargaku.

Aku mengenal wajah nenek buyutku dari pihak kakekku dari foto-foto. Aku bahkan tahu namanya: Rabina. Menurut ayahku ia orang Madura. Menurut seorang bibiku, yang menulis sejarah keluarga kami, ia orang Jawa Timur, anak Pak Grimin dan Sayeh. Banyak orang Jawa Timur berasal dari Madura. Rabina tinggal di satu tempat di pojok Timur Pulau Jawa, ketika sepuluh tahun sebelum penghapusan perbudakan, seorang pria muda bernama George Birnie meninggalkan Negeri Belanda dengan kapal layar menuju Hindia Belanda. Ia kemudian membuka sebagian tanah Jawa Timur dan menanaminya dengan kopi dan tembakau. Ia menikahi Rabina, suatu hal yang istimewa pada waktu itu, dan Rabina memberinya delapan orang anak: anak-anak Indo. Mereka dikirim ke Negeri Belanda untuk pendidikan mereka. Rabina kemudian juga diajak ke Negeri Belanda oleh George yang memimpin imperium Birnie dari sana. Wanita itu menguasai dapur di rumah keluarga, di lantai bawah tanah. Tuhanlah yang tahu apa yang dirasakannya.

Dalam kronik keluarga ditulis bahwa George meninggal di negeri Belanda, tetapi tidak ada catatan mengenai nasib Rabina. Penulis kronik hanya memetakan imperium Birnie. Jadi aku tahu apa yang dilakukan para pria. Aku tahu bahwa mereka menamami bidang-bidang tanah di Hindia Belanda. Aku juga tahu bahwa nenek buyutku Rabina masak untuk suami dan anak-anaknya dan bicara bahasa Belanda yang salah-salah dan lucu. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa. Sekali lagi: bagaimana perasaannya di Negeri Belanda? Asing? Ataukah ia merasa nyaman di mana pun, selama ia bersama suaminya? Aku menduga Rabina kembali ke Hindia Belanda sepeninggal suaminya dan meninggal di sana. Aku harap begitu, sebab, menurut orang-orang Indo tua, tanah di sana lebih hangat.

Anak keempat George dan Rabina bernama Willem dan lahir tahun 1868 di Djember, Jawa Timur. Indo asli ini menikah dengan saudara sepupunya, wanita dari cabang lain keluarga Birnie. Mereka memperoleh dua orang anak. Aku tidak tahu berapa lama mereka menikah. Secara hukum mungkin seumur hidup. Tapi mereka hidup terpisah. Itu terjadi ketika Willem berjumpa dengan nenekku, anak perempuan dari wanita yang mempunyai kaki-kaki kecil. Ia kemudian hidup bersama dengan perempuan itu, ‘samenleven’, menurut istilah ayahku. Orang lain akan mengatakan: ia mengundang perempuan itu tinggal bersamanya, sebagai pengurus rumah tangga. Dan mengambilnya sebagai ‘nyai’, istilah Indis yang menarik untuk seorang gundik.

Menurut ayahku ia lahir tahun 1893 di Kediri, Jawa Timur, dan bernama Sie Swan Nio, dengan nama keluarganya di depan. Tetapi akte pengakuan ayahku sebagai anak dalam 1925 mencantumkan: Sie Swan Nio, tanpa pekerjaan, beralamat di Soerabaia, Koninginnelaan 3, usia menurut pengakuannya tiga puluh dan lima tahun dan tidak kawin. Berarti tahun kelahirannya 1890? Bisa jadi karena alasan tertentu, uang mungkin, ia berbohong kepada notaris mengenai umurnya.

Jika ia lahir tahun 1890 sesuai keterangannya, ia dari tahun Macan. Kalau ia dari tahun 1893, berarti ia dari tahun Ular.

Ada perbedaan besar antara perempuan yang lahir di tahun Macan dan mereka yang lahir di tahun Ular. Wanita Macan lahir sebagai feminis dan karena itu paling tidak disukai di kalangan Cina kuno. Wanita Ular misterius dan sensual. Hari kelahirannya pasti: 23 Juli, batas antara tanda zodiak Cancer dan Leo menurut astrologi barat sekarang. Ayahku pasti mengingat tanggal itu dengan baik, di kemudian hari, ketika ia sendirian di Negeri Belanda, terpisah untuk selamanya dari keluarganya, karena ia harus melarikan diri dari orang Indonesia sesudah perang.

Sie Swan Nio sudah mempunyai anak sebelumnya, putri seorang pria Cina. Aku tidak tahu apakah ia menikah dengan pria itu. Aku hanya tahu bahwa lelaki itu kecanduan judi. Mungkin juga ini hanya karangan ayahku. Ada teori yang mengatakan bahwa sesudah perceraian, orang mencari seseorang yang mirip dengan pasangan hidup yang lalu, atau memiliki sifat-sifatnya yang paling menonjol. Dalam lakinya yang kedua, nenekku menemukan seorang penjudi lagi.

Dia, Willem, putra yang beruntung dalam imperium perkebunan Birnie yang kaya dan termasyhur, menurut ayahku memiliki dua belas bedil berburu yang digantung di tembok. Menurut cerita, orang Indo suka berburu. Mereka berburu celeng, babi hutan. Nenekku pasti sering melihatnya berangkat untuk berburu di hutan. Tapi mungkin hutannya terutama merupakan kumpulan alamat-alamat, dengan teman-teman perempuan, dan merekalah korban buruannya.

Menurut ayahku, Willem memiliki kapal uap, usaha binatu dan praktek pengacara. Sesudah itu aku membaca dalam catatan sejarah keluarga bibiku bahwa kakekku adalah enfant terrible, anak nakal keluarganya, bahwa ia mengarang rencana, supaya dapat meminjam uang dari kas keluarga. Tambang batu bara di Borneo, hal-hal semacam itu. Dalam perjalanan ke Negeri Belanda dan kembali ke Hindia ia selalu mampir di kasino di Monaco.

Sang bon vivant tidak mengikuti jejak ayahnya, George, dan tidak pernah mengakui kelima anak yang dilahirkan Sie Swan Nio. Karena itu nenekku sendiri melaporkan kelahiran ayahku, si bungsu. Menurut aktenya ia menunggu sampai saat terakhir, karena bayinya sudah berumur tiga bulan. Undang-undang di kala itu tidak mengizinkan jangka waktu yang lebih lama untuk pelaporan seorang anak. Mungkin selama itu ia berusaha membujuk lakinya untuk mengakui anaknya, agar setidak-tidaknya anak emasnya, anak kesayangannya, dapat menjadi ahli waris dengan masa depan penuh kesempatan gemilang.

Mungkin nenekku lahir dalam tahun Macan dan ia mempertikaikan pengakuan anak yang terakhir dan sang pemburu selalu mengatakan bahwa ia akan mempertimbangkannya dan selalu saja ia lupa, dengan botol wiski di mulutnya. Dalam kronik keluarga tertulis bahwa kakekku pada akhir hidupnya ditempatkan di bawah pengawasan keluarga. Ia menerima uang saku 600 gulden setiap bulan dan selanjutnya tidak boleh mencampuri urusan bisnis keluarga. Ketika sang penjudi meninggal sebelum Perang Dunia Kedua pecah, ia meninggalkan hutang semata-mata.

Mungkin nenekku lahir dalam tahun Ular dan ia menderita karena ketidakhadiran lakinya. Mungkin ia tidak menerima cukup uang untuk bisa hidup pantas. Aku tidak tahu apakah mereka saling mencintai. Kalau memang kakekku mengambilnya sebagai pengurus rumah tangganya, maka kemudian ia menjadi teman tidurnya. Sebagai teman tidurnya ia dapat mengatakan, atau percaya, bahwa ia bukan lagi seorang pengurus rumah tangga. Bahwa ia adalah istri orang penting, toean besar, seseorang dengan uang, kuasa dan wibawa.

Toean besar tidak mempunyai kuasa untuk menceraikan saudara sepupunya. Istrinya yang pertama ini, yang memberinya dua orang anak resmi, menolak untuk bercerai. Mungkin itu karena saham-saham dalam modal keluarga. Atau mungkinkah nenekku merasa bahwa hatinya selalu tertaut pada saudara sepupunya? Keakraban sejati hanya mungkin ada antara dua orang, begitu bunyi I Ching, Buku Perubahan, warisan lama dari Khonghucu dan murid-muridnya, satu-satunya pasporku ke alam pikiran nenek moyangku yang orang Cina: di mana ada tiga orang, akan ada kecemburuan dan satu di antara mereka harus berlalu.

Ayahku bercerita bahwa ibunya dalam tahun-tahun perang beralih dari kepercayaan Khonghucu ke agama Kristen. Artinya: ia mulai membaca Alkitab, dalam bahasa Melayu. Mungkin ia mencari penghiburan untuk kesedihan yang diakibatkan putranya yang bungsu dengan ide-ide politik pro-Belandanya yang tidak perlu, dan terutama dengan aktivitas perangnya.

Ketika orang Jepang memasuki Hindia Belanda, pada pemboman pertama kota Soerabaja separo rumah rusak. Keluarga ayahku harus mengungsi ke tempat lain di kota. Kakaknya yang sulung, yang ditunjuk sebagai walinya, memperoleh bukti-bukti identitas Tionghoa, sehingga keluarga itu dapat melalui perang dengan tidak terlalu banyak kesulitan. Seluruh keluarga, yang berpikir secara Indonesia, percaya ramalan Jayabaya: bahwa sesudah tiga tahun kekuasaan kuning akan kalah dan bangsa Indonesia akan merdeka. Tetapi anak emas nenekku telah kehilangan ayahnya pada usia yang terlalu muda dan mengidolakan ayahnya, Willem yang ‘asli Eropa’ dengan paspor Belandanya. Sudah tiga tahun ayahnya meninggal, ia sendiri berumur 17 tahun dan ia bukan orang Tionghoa bukan orang Indo bukan orang Belanda. Ia dipenuhi kebencian terhadap orang Jepang dan masih lama memendam duka atas kehilangan dua belas jambangan Cina besar pada waktu pemboman.

Apa lagi yang dilakukan nenekku di masa perang kecuali membaca Alkitab? Ia memperoleh penghasilan dengan membuat kecap di halaman belakang rumah. Semasa pendudukan Jepang putri kembarnya bekerja sebagai pelayan di suatu tempat yang juga didatangi perwira-perwira Jepang. Mereka membawa pulang uang dan ketika ayahku memprotesnya, ibunya berkata: ‘Diam kau. Kita harus makan.’ Ketika ayahku sebagai pemuda berusia dua puluh tahun pulang dengan gajinya sebagai serdadu dan mau memberinya kepada ibunya, ia berkata: ‘Aku tidak mau menerimanya. Ada darah melekat pada uang itu.’

Aku mendengar cerita itu berpuluh-puluh kali dari ibuku, seorang sahabat pena Belanda ayahku, yang diperkenalkan kepadanya oleh seorang serdadu Belanda dari Selatan Negeri Belanda.

Orang Jepang menyerah dan tentara Belanda berusaha menguasai Hindia kembali dengan apa yang mereka namakan Aksi Polisionil. Orang Indonesia tidak mau dikuasai lagi, mereka mengangkat senjata dan kekacauan terjadi di Hindia, yang kemudian menjadi Indonesia. Ayahku memilih pihak Belanda – bukankah almarhum ayahnya yang tidak mau mengakuinya juga orang Belanda – dan ikut Aksi Polisionil Pertama. Ia menghantam ranjau darat dan harus tinggal di tangsi pada Aksi Polisionil Kedua.

Aku tahu itu semua dari memoarnya, yang pernah ditulisnya atas permintaanku. Satu hari ia pulang cuti. Menurut ceritanya ia sedang memakai seragamnya dan membawa senapan. Aku tidak tahu apakah itu bisa, sebab bila seorang tentara cuti, ia harus meninggalkan senjatanya di tangsi. Ia mendengar seorang bayi menangis, menengok di kamar belakang dan melihat anak kecil dengan raut muka Jepang. Ia mengangkat senapannya, mengisinya dengan peluru dan membidikkannya ke sang bocah. Para pembantu berteriak-teriak dan mohon ampun. Ia pergi, sangat terhina karena kakak perempuannya telah melahirkan anak dari seorang perwira Jepang, seorang musuh.

Ke mana ia pergi, di mana ia biasanya berada? Di tangsi? Menurut memoarnya ia sering keluyuran di kota, di mana kelompok-kelompok kecil mulai saling menyerang. Ia tidak menulis bahwa dan bagaimana dalam masa yang kacau itu pacar kakaknya, seorang perwira Jepang, dibunuh pada suatu malam di kota.

Kelak di Negeri Belanda, ketika kami duduk mengelilingi pemanas batu bara dan mendengarkan kisah-kisah perangnya yang setiap malam diceritakannya, ia menyebut kakaknya Lea seorang kolaborator, perempuan penghibur, pelacur Jepang. Sebagai anak kecil sia-sia aku mencoba memahami apa yang dimaksudnya. Dan bertahun-tahun kemudian aku mulai bertukar surat dengan dia, Tante Lea. Aku menjadi salah satu dari Indo Generasi Kedua yang membuat perjalanan mencari akar diriku ke Indonesia. Di samping itu seorang penulis harus mempunyai kerangka untuk cerita-ceritanya, sebanyak mungkin suara mengenai hal yang sama, dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Selama lima minggu aku tinggal di rumah Tante Lea, yang paling dekat dengan nenekku karena ia merawatnya praktis sampai akhir hidupnya. Sekarang ia tinggal dalam rumah baru di sebuah jalan di daerah dekat Stasiun Gubeng di Surabaya. Tante Lea tinggal di situ dengan putrinya yang setengah Jepang, yang dinamakannya Josta, mirip nama ayahnya, perwira Jepang Josida.

Josta mempunya tiga orang anak dari pria Cina, seorang pemborong bangunan yang bekerja keras yang datang beberapa kali dalam seminggu dan kadang-kadang menginap. Istrinya yang pertama tinggal di tempat lain di kota. Sama seperti nenek kami, Josta juga seorang gundik, wanita piaraan, meski dalam semacam varian Cina-Buddha.

Anak laki-laki Josta, Joshi, mempunyai satu angan-angan: mengunjungi Jepang, negara kakeknya yang tidak dikenalnya. Wanita cantik idealnya adalah wanita Jepang. Sebuah kalender dengan model-model Jepang tergantung di atas tempat tidurnya. Anak perempuan Josta, Linda, suka hal-hal yang Cina dan pacarnya seorang pemuda Tionghoa. Setiap malam sepulang dari pekerjaannya ia ramai bercerita mengenai apa yang dialami, yang akan dikerjakan, yang disukai dan yang tidak disukainya. Orang mengatakan ia mirip nenekku, Sie Swan Nio. Tapi Linda banyak ketawa, dan ayahku mengatakan bahwa ibunya jarang tertawa. Putri bungsu saudaraku Josta bernama Ervina.

Kalau ketiga nama disimak dalam urutan usianya, bedanya tampak: Joshi, Linda, Ervina. Yang pertama membawa jejak-jejak kakeknya yang tidak dikenalnya dalam namanya. Yang kedua nama yang bagus untuk seorang gadis Tionghoa modern. Yang ketiga bunyinya Indonesia.

Aku tidak merasa nyaman di jalan-jalan di Indonesia. Tapi aku senang di teras depan rumah bibiku. Mungkin karena serambi depan mengingatkan aku pada cerita-cerita ayahku mengenai Hindia Belanda. Aku duduk di situ sepanjang malam dan berjam-jam melihat cecak-cecak di dinding. Kadal tembok ini di tahun enam puluhan selalu tergantung dalam bahan kuningan di dinding rumah orang Indo di Belanda, sekarang mungkin masih begitu di rumah orang-orang Indo tua.

Tante Lea sering berada di dapur, di mana ia setiap hari mendengarkan wayang di radio dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga ringan. Malam hari ia mengunjungi aku di teras depan, berdiri di belakangku dan selalu menyapaku dengan pijatan tangannya pada bahuku, leherku, yang kaku Belanda, dalam penantian tegang akan cerita-ceritanya.

Aku harus menunggu berhari-berhari, berminggu-minggu, cerita mengenai Josida, perwira Jepang, yang begitu dibenci oleh ayahku. Cerita itu sampai kepadaku dalam dua versi. Pertama-tama dalam versi saudaraku Josta, kemudian dalam versi bibiku Lea.

Josta berkisah, sambil mengepel lantai, bagaimana ayahnya yang tak dikenalnya pada suatu malam membeli rokok. Jepang telah menyerah dan serdadu-serdadu Jepang menunggu pemulangan ke negeri mereka. Waktu itu masa ‘Bersiap’: beberapa orang Jepang bertempur, bersama-sama dengan orang Indonesia melawan Belanda, yang lainnya bersembunyi di gudang-gudang pelabuhan atau di rumah-rumah yang pernah mereka sita ketika menduduki Hindia Belanda. Ada juga yang bersembunyi di rumah pacarnya, seperti Josida.

Kebanyakan orang Indonesia tidak mengganggu orang Jepang, tapi ada juga desperado berkeliaran, orang nekat, termasuk orang Indo yang masih ingin menyelesaikan urusan dengan bekas musuh mereka. Ya, seperti ayahku. Orang Jepang yang malam hari masih berkeliaran di jalan sendirian benar-benar tolol. Karena itu Josida tidak pergi sendirian, tapi ditemani saudaranya, juga seorang perwira. Tante Lea menantinya, tapi tidak melihatnya kembali. Ia pergi mencari dan mendengar bahwa ada orang yang kedapatan mati di pasar. Wajahnya rusak, pada waktu identifikasi dia hampir tidak bisa dikenali kembali. Dia saudara Josida.

Dan Josida sendiri?

Ja, lari tentunya. Dia tidak berani kembali, toh. Mama masih mencoba mencarinya, sampai jauh sesudah perang. Sampai di Tokio, kamu tahu jauhnya seperti apa, lewat perantaraan orang-orang lain. Tapi ia tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Kasian ibuku, ya.

Berhari-hari kemudian, di serambi depan, sebelum aku pulang ke Belanda, bibiku Lea menemaniku duduk. Ia tidak menyapaku dengan jari-jarinya yang memijat, ia ingin bercerita sesuatu. Tanpa berkata-kata ia memandang ke depan, ke jalan yang gelap dan sepi. Ia meletakkan tangan-tangannya yang tua di pangkuannya, dan ia bercerita bahwa pada suatu malam Josida pergi membeli rokok. Di luar berbahaya, jadi ia ditemani saudaranya. Itu terakhir kali ia melihat Josida yang dikasihinya, karena mereka tidak kembali. Berdua mereka mati di pasar, wajah mereka dirusak dengan senjata tajam.

Berdua?

Ya, berdua. Sesudah Josida bibimu tidak pernah mempunyai laki lain. Tapi aku punya Josta, dan Josida terus hidup di dalamnya, jadi ia selalu berada di dekatku. Linda mirip omamu, kamu tahu ia ingin pergi ke Cina. Dan Joshi, dia rupanya mirip sekali dengan kakeknya, karena itu ia memimpikan gadis Jepang dan negeri Jepang.

Tapi Josta mengatakan hanya saudaranya Josida yang ditemukan mati.

Ya, aku tidak menceritakan semuanya padanya. Kasian toh dia. Tapi sekarang dia tidur, jadi aku sekarang bisa cerita padamu. Kau bisa punya suami yang tidak selalu di rumah, atau kekasih yang meninggalkanmu. Tapi siapa yang mau punya ayah tanpa wajah.

* * *
Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Terjemahan di atas dimuat di majalah mingguan Femina no. 33, 16-22 Agustus 2001, Jakarta

Gepubliceerd op
Gecategoriseerd als Sastra